Real Graffiti - Magelang

Kebhinekaaan dalam satu karya graffiti “MAGELANG”

Read More

#veistand #easter #ykc #2K15 #grapyakbombing

Read More

artefak – stensil – rebut kembali jalurmu

keterangan foto: sebuah master stensil a.k.a. mall stensil (Eng: mold) yang dibuat oleh Guerillas – Wimbo Priharso

Rasanya masih hangat dalam benak ketika di penghujung 2012 para pegiat street art dan pegiat sepeda di Jogjakarta mulai sering berkumpul karena kegelisahan atas ruang publik di kota yang katanya kota pendidikan, kota budaya dan kota pariwisata ini mulai tidak ramah kepada warganya. Ruang publik di Jogja semakin tergerus dan dilahap oleh keserakahan.

Perjumpaan sepeda dan street art dimulai dengan dihapusnya agenda “SEGASEGAWE” oleh pemerintahan walikota Haryadi Suyuti, yaitu program bersepeda yang sudah dicanangkan oleh pemerintahan walikota sebelumnya Herry Zudianto. Segasegawe adalah kegiatan yang mendorong pemakaian sepeda sebagai alat transportasi untuk pergi ke sekolah (untuk para pelajar) dan untuk pergi bekerja (untuk para pegawai pemerintah, swasta maupaun kalangan umum). Program populer yang sangat bagus dari pemerintahan Herry Zudianto yang sebenarnya banyak mendapatkan dukungan dari masyarakat ini “dihapuskan” di masa pemerintahan walikota Haryadi Suyuti.

Memang benar sebelumnya sudah ada kegelisahan-kegelisahan yang muncul mendahului terkait ruang publik dan kehidupan bertoleransi di kota Jogja yang mulai tergerus. Ruang publik sebagai hal yang nampak di mata warga makin banyak dikooptasi menjadi ruang iklan komersil ataupun tempat iklan politik. Baliho-baliho setinggi megaloman sebesar godzila yang makin banyak berdiri menutupi langit biru dan Gunung Merapi. Jangan lupa pemakaian Jembatan Kewek yang bersejarah dan Flyover Janti (wilayah Sleman) menjadi tempat branding provider telepon. Sampah visual a.k.a. vandalisme berbayar. Embrio kegelisahan ini sebenarnya mulai dengan kampanye Jogja Rumah Bersama yang mau menyampaikan toleransi dan keberagaman Jogja sebagai rumah bersama bagi warganya baik “warga aseli atau warga pendatang” (toh yang aseli sebenarnya yah para munyuk-munyuk yang dulu menghuni Alas Mentaok). Disusul terjadi “perang” yang hampir berlangsung sepanjang tahun 2012 atas Jembatan Kewek antara pegiat street art dan provider ungu AXIS. Waktu itu, Jembatan Kewek yang sebelumnya adalah gallery bersama (nggak ada hukumnya sih) yang menjadi ruang pamer bagi karya para pegiat street art di Jogja tiba-tiba berubah warna menjadi ungu sebagai iklan provider telepon AXIS. Nah, vandalisme oleh korporat yang ngiklan di ruang publik yang nota bene mau mencuci otak warga Jogja untuk konsumtif dan membeli yang diiklankan. Selanjutnya seperti efek domino, muncul banyak masalah yang tiba-tiba mencolok di depan mata warga. Banyaknya permasalahan ini seolah menunjukkan bahwa pemerintah tidak ada, tidak peduli dan lupa ngurus kota dan warganya. Trotoar menjadi lahan yang sulit diakses oleh pejalan kaki, apalagi oleh penyandang disabilitas, pembiaran konflik antara para pejalan kaki, penjual kaki lima dan tukang parkir yang mengakses trotoarnya pejalan kaki, bangunan cagar budaya makin banyak diruntuhkan menjadi hotel, restoran atau mall, jalur sepeda tidak diperhatikan lagi oleh pemerintah kota. Ironinya, ada sekolah-sekolah yang bangkrut lalu berubah fungsi menjadi hotel yang entah seajaib apa ijinnya sehingga bebas menginjak-injak martabat kota yang katanya para warganya berpendidikan dan menyandang predikat kota pendidikan. Oh ya, hampir lupa. Kota Budaya yang masyarakatnya merasa punya budaya adiluhung ini juga dengan gampangnya merusak bangunan cagar budaya untuk dikomersilkan. Ah preeek dengan predikat-predikat itu.

Kegelisahan para warga berujung pada praksis seni dan keberdayaan bersama. Rebut Kembali Jogja! Banyak komunitas dengan cirinya yang unik melebur bersama memulai inisiasi keberdayaan warga untuk menjawab dan melawan. Tidak ada lagi kelompok-kelopok kecuali warga. Iya, warga melawan dengan cara “ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake” – warga yang berdaya ini bergerak bersama. Selalu ada dan tetap berlipat ganda sebagai warga yang berdaya dan warga yang tidak perlu menggantungkan diri pada negara dan pemimpinnya yang gundul-gundul pacul itu. Warga yang berdaya ini tidak hanya mengecat dan membuat jalur sepeda sendiri, tidak hanya memutihkan Jembatan Kewek, tidak hanya membersihkan sampah visual sendiri tetapi tetap bergerak sendiri dengan keberdayaan masing-masing yang bermunculan silih berganti. Warga yang berdaya akan selalu ada kapan dan dimanapun ada resistensi dan kesemrawutan. Kemudian para pemimpin gundul-gundul pacul akan mulai membenci para warganya sendiri.

#rebutkembalikewek #sumpahsepeda #ramasalahhar #har #Mertikutha #SO1Maret #reresiksampahvisual #sampahvisual #festivalsenimencariharyadi #kartuposuntukwalikota #trotoar #wargaberdaya #kotauntukmanusia #JOGJAORADIDOL #jogjaasat #sepedabaik #streetart

Tulisan usil oleh RG – urbancult.net

Sumer foto FB – Kota Untuk Manusia

Read More

Kota Jogja adalah surga bagi para artis graffiti. Hampir di setiap sudut kota kita akan menemukan berbagai karya para seniman tembok Jogja. Salah satunya di suatu lokasi reruntuhan bangunan yang merupakan tanah sengketa. Beberapa graffiti writer memanfaatkan situasi tersebut dengan membuat karya di tembok yang tersisa. Lihat lebih banyak karya graffiti Jogja di http://bit.ly/jogjagraffiti

Read More

#veistand #yogyakartagraffiti

Read More

#veistand #yogyakartagraffiti

Read More

VEIST

Read More

graffiti artist from jakarta mort

Read More

Read More

SWOON
SWOON pelaku seni jalanan dari Brooklyn berada di Indonesia. Dia juga memasang karyanya di salah satu tembok di Jogja. Karyanya tempel, berkisah sosok perempuan. Hal pertama yang muncul pada benak saya, ketika di pagi hari memotret karya SWOON ini adalah: Perempuan Itu Empu

Read More