yang terus melaju dan bergerak

Sindikat Crigis Penyruput Kopi – Saksruputan

Saya sedang nyruput kopi, lalu – mustikah saya jadi crigis dan nyinyir tentang sesuatu. kalau demikian, pantaslah di masa lalu minum kopi di kedai dilarang di negeri Perancis. semua orang jadi crigis dan nyinyir sehabis minum kopi atau memang karena sebenarnya orang dilarang berkumpul sambil minum kopi karena njuk mereka suka membuat gagasan pemberontakan atau apalah itu gagasan baru yang menjadi anarki-anarki kecil baik di otak kaum feodal borjuis atau para pejuang hidup sendiri.

IMG_20170826_115128

jadi begini ceritanya: …

Sebenarnya pagi ini saya mau memperbaiki, servis dan bersihkan sendiri sepeda saya. Sebuah sepeda merk Quatro – Polygon yang saya beli sejak 2007 – hasil dari “mendadak wartawan a.k.a. mendadak investigative journalist” untuk beberapa majalah dan koran yang katanya terkeren di Negeri Kangguru. Seselesainya kejadian itu saya dapat gaji besar. Saat itu saya bilang itu “gaji besar dari kesedihan” – karena “thiiit” sejak ada kabar “kecelakaan Garuda” di Bandara Adisucipto saya dikontak untuk membantu kawan-kawan yang nggak mudeng Bahasa Indonesia itu. Tetapi oleh karenanya, untuk menghormati para korban kecelakaan Garuda 2007 – dan supaya tetap “nyanthol” maka pilihannya adalah “mengubahya” menjadi alat “transportasi aman dan menyehatkan”, serta sebuah “kritik” – untuk pilihan kampanye pribadi atas perlunya sistem transportasi yang lebih baik di negeri ini. saya beli sepeda – meski saya sudah ada sepeda onthel di rumah yang biasa saya pakai keliling kota – seluruh uang hasil “gaji sedih” itu. Beberapa kali sesudah kejadian sedih ini saya masih sering dikontak untuk melanjutkan kerja “journalist” muda sama mereka, tapi saya tolak, saya tidak mau meninggalkan kota ini (sok alasan punya kerjaan lain dan pcr  – iki guobloke nemen tenan jane). Jadi, itulah kenapa sebuluk apa sepeda itu, (sering dibully karena ban gundul, kotor banget, tetek bengek fitnah) masih saya simpan dan pakai. Nah, sepeda itu hampir selama satu semester kemarin dipinjam oleh anak dari kawan baik yang lagi sekolah di Jogja (yang sekolah anaknya ya bukan kawan baik saya). Beberapa hari lalu saya terima lagi sepeda itu. Ternyata anak kawan saya “ndak suka sekolah” yang banyak aturan. “Bagus itu.” jawab saya.IMG_20170826_115158

Sebelum tangan saya kotor oleh noda minyak mbenerin sepeda, saya sempatkan dulu buka “kotak kotor” ini melihat lagi koleksi foto “gambar sepeda” di tembok arah Sangkring Art yang dibuat oleh kawan-kawan street art di Jogja. Saya sempat janji pada diri saya sendiri (karena saya tahu betapa tidak enaknya dikibulin janjinya orang lain – apalagi sama orang yang kamu pilih jadi – taek iki malah curcol) untuk buat tulisan tentang foto-foto “sepeda” itu sebelum saya terlibat dalam perhelatan panjang Europalia. Nyatanya, baru sekarang saya mulai menulis, taeknya sudah lama masuk ke lubang wc. Janji untuk diri sendiri yang dilanggar oleh saya sendiri, itu nikmat. Mungkin gitu rasanya ya jadi pelanggar janji – pseudonikmat. Ini, sekarang saya lagi nulis tapi gegara musik dan kopi ceritanya jadi ngalor-ngidul, ngulon-ngetan campur curhat bikin galau padahal awalnya mau bikin tulisan tentang sepeda dan street art di Jogjakarta.

Tentang Keberanian dan Semangat Baik – Rongsruputan

IMG_20170826_115049

doraemon saja ikut nongkrong – jadi dalang main wayang

“Tentang keberanian dan semangat baik” sebenarnya saya ulik dari Lagu Baik nya Sisir Tanah yang aselinya ada lirik: “panjang umur keberanian, panjang umur semangat baik”. Keberanian dan semangat baik ini menjadi hal yang menarik untuk saya, khususnya ketika berada dengan kawan-kawan para pegiat sepeda dan street art. Kalau saya bisa nggitar kayak Mas Danto Sisir Tanah, pasti saya sudah bikin lagu untuk para pegiat sepeda dan setrit art di Jogja ini (cuman gondrong doang tapi siul singsot saja fales) karena saya tahu sekali sesiapa mereka dan bagaimana mereka memulai dan mengawali gerakan bersama yang tampaknya memanjang dan bertumbuh hingga sekarang ini masih berlangsung bercabang-cabang mirip pohon beringin, tentang ruang publik hingga ruang privat, tentang tembok, jalanan, pedestrian/trotoar dan mungkin juga hingga lahan tanah. (Tetapi kok sesudah berkali-kali saya putar Lagu Baik yang mbikin mak jleb-jleb-jleb untuk saya malah ini yah:”seumpama suka, kau ambillah jantungku saja”).

IMG_20170826_115109 edit

sebab jualan bermoda “gerobak sepeda” begini juga adalah bersepeda untuk bekerja – tidak saja yang harus ke tempat kerja pakai helm, kaos2 ketat serta asesorisnya. yang penting pancal sepedamu.

Para pegiat sepeda di Jogja itu banyak sekali. Ada yang bilang dirinya “presiden sepeda”, ada yang bilang “segosegawe”, ada yang bilang “segara amarta”, ada yang bilang “JLFR – Jogjakarta Last Friday Ride” ada yang bilang “sepeda untuk kerja”. Apapun sepedamu, pedal dan melajulah. Apapun tujuanmu bekerjalah dan bergeraklah laju. Orang yang memilih naik sepeda itu pemberani. Tuhanpun pasti butuh keberanian untuk naik sepeda, apalagi manusia. Tapi manusia lebih nekad daripada Tuhan, mereka berani naik sepeda. Kalau naik sepeda di jalanan yang penuh kendaraan bermotor, mobil, bus, truk, pesawat terbang, kapal tangker, pesawat ulang-alik pun biasa – pemerintah kita keknya nggak masalah segala sepeda bergelut dengan mereka-mereka yang bermesin di jalanan Indonesia.

IMG_20170826_115114 edit

bahkan ketika sekedar naik sepeda juga demikian

Para pegiat street art (kenapa kok nggak “setrit art” saja yah – keules deh) – siapa bilang mereka bukan pemberani. Keluyuran tengah malam di jalanan untuk membuat sebuah karya di tembok-tembok ruang publik (nyebutnya “street art” karena benar-benar bikin karya di jalanan – ruang publik, bukan yang bikin karya di kamar mandinya sendiri). Mereka ini berani ditanya, “Mas pekerjaannya apa? Kan menghabiskan duit banyak buat nggambar beginian di jalan. Lalu duit buat beli ini itu dari mana?” Coba aktivis eh pegiat apa yang berani menjawab pertanyaan seperti itu selain pegiat “street art”. Saya, bertanyapun nggak berani, takut disampluk cocot saya oleh Batman.

Sungguh memang para pesepeda nakal dan setrit art ngglidik ini cocote semplak, pernah bikin bengep-bengep tidak berkutik para pejabat kota ini gara-gara para pesepeda nakal dan pegiat street art ngglidik minta jatah di kasih ruang. karena ndak dikasih, njuk mereka bikin sendiri ruang-ruangnya. Afuuu cenan tetapi itulah semangat baik para pemberani. panjang umur selalu.

Gerakan Sepeda dan Setrit Art – Telungsruputan

Saya akan segera bergerak mbersihkan sepeda saya lalu nanti mau saya pakai bergerak buat ketemu teman-teman sutrit art yang lagi “kerja semangat baik”. Itu harus sekarang sebab kalau nulis terus njuk kapan tangan saya segera kotor kena minyak dan bisa menghabiskan kopi saya. IMG_20170826_115140

panjang umur keberanian, panjang umur semangat baik …

gerakan yang diseret-seret waktu, berjalan saja masih terus berjalan, ndak mau tunduk pada jarak ….

(gitu kan Mas Danto?)

Mural by “Otewe Mural Project: Ismu Ismoyo, Kotrek, Guerillas 2017.

untuk #urbancult.net, pegiat sepeda dan pegiat setrit art … mari terus bergerak.

Lihat juga: http://www.urbancult.net/2015/11/04/artefak-stensil-rebut-kembali-jalurmu/

atau ketik: sepeda, warga berdaya, jogja ora didol – di bagian search (kanan atas) web ini. yang jawabannya benar ambil sendiri sepedanya.

RG – untuk urbancult.net

Related post:

0 comments
Submit comment