“ngerti sadurunge winarah” saja judule

"memanfaatkan bongkaran rumah yang meraja lela"

“memanfaatkan bongkaran rumah yang meraja lela”

02-10-16-2

“memanfaatkan bongkaran rumah yang meraja lela”

Catatan Petang Ini

Rasanya sudah cukup lama saya tidak mengunggah postingan gambar beserta tulisan untuk urbancult.net ini.

Ada banyak alasan yang bisa saya ajukan sebagai tameng dan pembelaan diri, yang akhirnya akan dibilang sebagai “pembenaran semata” mengapa sekian lama urbancult.net “naik – turun” untuk penggunggahan dokumentasinya. Salah satu alasannya adalah kamera. “Ndak punya kamera sendiri untuk ambil-ambil gambar.”

Rasanya, benar urbancult.net butuh kamera digital poket yang memadahi supaya lebih semangat untuk kerja sukarela kumpulkan dokumentasi street art-nya. Beginilah, mupeng kamera- muka pengen punya kamera, secara kerja sukarelanya urbancult.net itu yah terkait ngumpulin foto-foto street art di jalanan. Iyaaa: “Kan sekarang, jaman lebih modern, sudah ada kamera HP yang canggih nggak kalah sama kamera biasa” sebelum direspon dengan kalimat begituan mendingan saya timpalin dulu demikian.

Jujur, rasanya beda mendokumentasikan foto-foto dengan kamera DSLR, pakai kamera poket digital dan kamera HP.  Dulu di awal-awal sudah pakai kamera DSLR milik pribadi, supaya terkesan serius untuk olah teknik fotonya tapi ternyata justru kamera “besar” ini bikin repot karena memakan tempat dan tidak bisa dibawa kapan saja pas bepergian. Sampai pada akhirnya kamera “besar” tersebut rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Lalu masuk pada masa bergantian pinjam kamera sana-sini untuk usaha motret ndokumetasikan street art; sampai kemudian ada teman yang baik hati meminjamkan kamera poket digitalnya, yang akhirnya juga musti dipakai untuk hal lain. Masa ketika mendokumentasikan street art pakai kamera poket tersebut semacam masa keemasan. Ringkasnya, karena mudah dibawa kemana-mana, bisa dikantongi dan mudah diambil pas di jalan, mudah dipakai, dipergunakan tanpa harus atur ini-itu. Klik, jrot, cret, cekrek, jleb, byar, fiyuuuh … gambar jadi, sebagai mana apa adanya tanpa basa-basi babibubobe.

Sekarang, tidak ada kamera poket itu lagi. Pakai HP dong! Iyaaa, yang ini pakai HP. Cuman, ya rasanya beda. “Situ ndak usah nyari-nyari alasan ini-itu yang intinya pakai kamera HP juga bisa yah.” Bagi saya beda ya beda. Saya lebih suka pakai kamera poket.” Alasan selesai. Senggol bacok, bleyer RX King!

Namun, saya senang pakai kamera apapun tetap bisa menulis – serepot apapun pakai kamera HP (musti pakai aplikasi pindah file foto ke PC, atau mindahin memory ke PC) toh kerinduan mau memotret ketika di jalan lalu menuliskannya adalah sesuatu yang setrong dan amat langka sehingga perlu dilindungi dengan undang-undang tertentu untuk mempertahankan kerja sukarela yang makin langka ini.

Tapi ada yang tidak langka lho di kota Jogja. Apa hayoooo? Hal yang tidak langka di kota ini adalah rumah-rumah roboh, bangunan-bangunan terbengkalai dan pembangunan kota. Itu berbanding lurus dengan ketidaklangkaan tempat-tempat para aktivis street art memajang dan menempatkan karya-karya mereka. Nah, semakin banyak rumah-rumah dan bangunan-bangunan dirobohkan, maka semakin banyak pula graffiti beserta karya street art lainnya yang terpangpang yang nota bene berada di lokasi “robohan dan terbengkalai” tersebut. Ini “konspirasi jahat” kali ya, mungkin para aktivis street art lah yang sebenarnya menguasai pembangunan eh perobohan di kota ini. Mereka sengaja, berkonspirasi dengan berbagai cara supaya bangunan-bangunan roboh lalu esoknya atau mendadak gitu, tiba-tiba mak bedunduk karya-karya mereka sudah terpampang di sana. Warbiyasaaaa bukan …

Jadi kalau mau melihat prediksi ke depan, di mana rumah atau bangunan yang akan dirobohkan, tanya saja ke aktivis street art. Mereka pasti tahu, “ngerti sadurunge winarah” – jangan pernah tanya kepada Raja, Gubernur, Walikota, Bupati, Investor atau Pemerintah atas kerobohan-kerobohan itu; mereka tidak tahu, yang mereka tahu adalah hal tentang “pembangunan-pembangunan”, bukan hal “kerobohan”. Tentang bangunan roboh silakan tanya pada pegiat”street art dan graffiti”.

Tidak langka kan, bangunan dan rumah roboh? Iya, tidak langka dan tetap dilindungi oleh raja, gubernur, walikota, bupati dan pemerintah, sehingga tetap akan selalu ada bangunan yang roboh, atau investornya yang dilindungi, bak binatang langka.

Saparatooooos … atos atos atos … !!!

Foto di atas, saya ambil sepulang dari Penen. Saya tidak tahu siapa pegiat street art yang membuatnya.

=== tulis saja, eh ketik saja ding … ngalir.

RG for urbancult.net

Related post:

0 comments
Submit comment