gambar unyu-unyu

Meleleh-leleh

Siapa yang tidak meleleh melihat gambar jalanan unyu-unyu macam ini? Saya sih meleleh sampai mblenyek malahan. Jadi, seselesai saya mengirimkan paket di Kantor Pos Gondomana, saya melalui Jl. Tilarso, itu jalan yang mengarah ke Pintu Gerbang Taman Budaya Yogyakarta. Nah, di seberang pintu gerbang tersebut, jaman dulu kala, ada bangunan besar di sisi selatan yang “entah bangunan” apa sering menjadi tempat pegiat street art memajang dan pasang karya-karyanya.

Suatu saat, bangunan tersebut dibongkar. Sekarang lahan bekas bangunan itu, menjadi tempat parkir.

Sore tadi lahan parkir itu sedang tidak ada yang parkir sehingga mengundang keinginan untuk memotret karya street art yang terpampang di sana.

  1. Niyat sekali yah, itu sampai di atas-atas. pasti mereka mbikin sambil terbang. coba ilmu apa yang dipakai sehingga bisa sampai di atas-atas itu. (kalau mau tahu, ya tanya saja pegiat street art).
  2. Asyik kan, kalau tembok kosong digambari warna-warni daripada melulu “plain” njamur dan cat memudar karena kena panas hujan, jamur, atau sampah umum tempelen poster iklan.
  3. Asyik kan, itu ada yang bisa berkarya di sana daripada yang ikut mbleyer-mbleyer di jalan lalu ikut-ikutan mreman yang bisa jadi menginspirasi partisipan muda bleyer-membleyer ini untuk klithih bacok sana-bacoksini, wreeeng-wreeeng-wreeeeng: “Senggol bacoook, mbleyeer is the best.”
  4. Menurut saya, ini juga pembangunan, tapi pembangunan karakter mental. Ini istimewa lho, … tanpa mereka dengan sendirinya menyebut diri istimewa dan ndak perlu minta jatah didanaistimewakan. ┬áheeeeeeeee … :)
  5. wes ah ..

Nah, apakah ini sudah cukup membuat “meleleh unyu-unyu” atau masih mau nyebut vandal?

=== manuke-kejam : mari nulis kegiatan jalanan mas/mbak ===

RG for urbancult.net 03.10.2016

Related post:

0 comments
Submit comment