Penyeragaman membunuh Keberagaman

City of Tolerance 1

City of Tolerance - Penyeragaman membunuh Keberagaman

Minggu (10 April 2016) dini hari di Yogyakarta, Urbancult berangkat menuju Jembatan Kleringan/Kewek di tengah kota atas undangan beberapa teman. Mereka mengaku diri mereka sebagai bagian dari Forum Solidaritas Jogja Damai (SJD) sebuah forum yang baru-baru ini dibentuk oleh berbagai individu, organisasi, dan kelompok kreatif di Yogyakarta. Kami disambut dengan salam hangat, dengan tangan berlumuran cat berwarna hitam yang kemudian juga membekas di tangan kami. Segera kami bergabung dan nongkrong di pinggiran trotoar mengamati dinding-dinding Jembatan Kewek yang hampir seluruhnya tertutup dengan cat basah berwarna hitam.

City of Tolerance - Penyeragaman membunuh Keberagaman, Zent

Beberapa saat kemudian, mereka telah selesai mencat hitam keseluruhan dinding – dinding di sisi jalan Jembatan Kewek, baik di bagian barat maupun di bagian timur. Mereka kemudian menuliskan sebuah “tanda tanya (?)” besar dan kalimat “City of Tolerance” dengan cat semprot berwarna kuning tepat di tengah sebuah dinding bagian barat Jembatan Kewek. Tulisan serupa juga ditorehkan pada kedua dinding bagian timur. Di satu dinding bagian barat mereka menuliskan “PENYERAGAMAN membunuh KEBERAGAMAN” dengan cat semprot berwarna oranye.

Setelah mendokumentasikan kegiatan tersebut, kami kemudian bertanya pada salah satu dari pelaku aksi tersebut. Dia menjelaskan aksi tersebut sebagai sebuah sikap terhadap rentetan kasus intoleransi yang terjadi di Indonesia khususnya di Yogyakarta. Mural ini adalah sebuah pesan kritis terhadap terancamnya nilai-nilai keberagaman yang seharusnya tumbuh dan terpelihara di Indonesia apalagi di kota yang mengklaim dirinya sebagai “City of Tolerance”. Kasus intoleransi tersebut acap kali disertai dengan aksi kekerasan sebagai sebuah tindakan penyeragaman atas kepentingan sebuah kelompok tertentu. Dia kemudian menjelaskan tindakan penyeragaman itu telah membunuh nilai-nilai keberagaman yang sudah mendarah daging dan telah menjadi dasar ideologi persatuan bangsa Indonesia.

City of Tolerance 2

“City of Tolerance” itu sendiri adalah sebuah slogan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta atas heterogennya warga kota tersebut. Benar saja, hingga saat ini bisa dibilang kota Yogyakarta dihuni oleh warga dari seluruh penjuru Indonesia. Tapi apakah keberagaman tersebut terpelihara dengan perlindungan dari negara adalah sebuah pertanyan yang muncul pada saat ini.

Rentetan kasus intoleransi di Indonesia khususnya di kota Yogyakarta, membuat warga kian resah dan mempertanyakan kondisi tersebut. Yogyakarta mengklaim dirinya sebagai “City of Tolerance”, namun kenyataan di lapangan kondisi itu sangat berbeda. Kasus-kasus intoleransi semakin marak dan negara seolah abai dan justru terkesan memelihara kelompok-kelompok yang menggunakan aksi kekerasan dalam melakukan penyerangan kepada kelompok minoritas.

City of Tolerance 3

Baru baru ini, Setara Institute merilis hasil kajiannya tentang kondisi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) tahun 2015. Laporan itu menempatkan Yogyakarta masuk dalam lima besar provinsi dengan pelanggaran tertinggi. Menurut analisis Setara Institute ada tiga penyebab kenapa Yogyakarta masuk dalam provinsi dengan peringkat pelanggaran KBB tertinggi. Pertama, faktor dinamika kepemimpinan di tingkat lokal. Kedua, pertumbuhan kelompok-kelompok sosial yang menampilkan wajah dan tindakan intoleran. Mereka memanfaatkan keterbukaan masyarakat Yogyakarta. Ketiga, lemahnya kontrol legal dan kontrol sosial.

Aksi teman-teman dari Forum SJD ini, mengangkat pentingnya pemeliharaan hak asasi seluruh warga Indonesia yang beragam. Forum SJD dibentuk sebagai forum bersama yang mempunyai semangat untuk mendorong usaha-usaha perjuangangan bagi terciptanya keadilan dan perdamaian bagi kelompok minoritas. Klaim slogan “City of Tolerance” sudah sewajibnya dipelihara oleh pemerintah dan seluruh warga yang berhuni di Indonesia. Khusus bagi pemerintah Yogyakarta, sudah sewajibnya tidak sekedar membuat slogan tapi juga berkewajiban melaksanakan dan memelihara slogan itu dalam kenyataan. (red-urbancult)

Related post:

0 comments
Submit comment