Ada Gabah, Beras dan Nasi

“Berharap agar keterpotongan sejarah tidak lagi menjadi tabiat logika generasi yang hidup dan dihidupi oleh ketertindasan petani. Terimakasih untukmu Petani” DS.13.”

Dalam catatannya mengenai karya ini, seperti yang tertulis di atas, DS 13 menyiratkan secara tidak langsung bahwa karyanya mewakili sosok petani dan generasi masa kini. Mungkin sosok perempuan tua bercaping adalah mewakili petani dan sosok perempuan kecil disampingnya adalah generasi muda sekarang. Mereka saling berjabat tangan, seperti mau berkenalan atau ingin mengerti dan memahami satu sama lain.

Hal ini mengingatkan saya ketika beberapa tahun lalu ketika berkunjung di pertanian teman saya di daerah Turi, Sleman, Jogjakarta. Waktu itu bersamaan dengan kunjungan satu kelas Sekolah Dasar dari Kota Jogjakarta. Guru kelas memang sengaja membawa dan mengenalkan murid-muridnya dengan pertanian dan petaninya. Tidak cukup mengherankan ketika ada banyak murid SD yang kebetulan dari wilayah kota tidak tahu bahwa asal muasal nasi yang mereka makan adalah dari beras. Dan banyak diantara mereka yang baru benar-benar tahu bahwa beras itu berasal dari tanaman padi yang ditanam di sawah (selama ini mereka hanya tahu dari gambar buku, informasi dari guru atau dari televisi dan TIDAK TAHU bagaimana wujud mereka yang sebenarnya). Mereka juga pasti tidak tahu bahwa tanaman padi menghasilkan bulir-bulir padi dan harus dipanen dulu sebelum digiling menjadi beras yang siap dimasak. Ada “gabah”, beras dan nasi.

Saya tidak tahu, ini kesalahan sistem pendidikan, sistem sosial atau bangsa ini mengalami kemunduran dalam banyak hal. Namun yang pasti ini apa yang dicatatkan DS 13 atas karyanya ini adalah satu bentuk pertanggunjawaban dan pesan atas karyanya.

RG for Urbancult.net

Kutipan DS 13 diambil dariĀ http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10201368176465189&set=a.10201276649097062.1073741826.1197191383&type=1&relevant_count=1

Related post:

0 comments
Submit comment