Jogjaku Dikepung Balon-balon Penipu

Belakangan ini Jogja semakin semarak dengan warna-warni balon yang “ujug-ujug” muncul di beberapa titik. Wah apa lagi ini? Ada yang ulang tahun kah? Siapa? Kapan ? Kok gak ngundang-ngundang eaaaa? Dan blablabla.. Ya sudah, kuputuskan untuk berhenti dan melihat. Ternyata setelah diamati, balon-balon itu berisikan promosi salah satu provider telekomunikasi. Balon-balon tersebut sudah ada di beberapa lokasi, di antaranya di perempatan Kentungan (Jl. Kaliurang-Ring Road), Perempatan Galeria Mall, seberang Ambarukmo Plaza dan di dekat Kreteg Kewek. Jengjeng!!

Tentu tak ada yang salah dengan kreativitas. Tapi kreativitas macam apakah bila pada akhirnya menganggu kenyamanan publik (setidaknya saya dan banyak teman saya merasakan ini)? Para pengiklan ini semakin kreatif dalam penggunaan media, semakin mengganggu pula bagi masyarakat. Belum lama ini sudah disuarakan dalam aksi Merti Kutho #1 yang menentang penggunaan ruang publik khususnya cagar budaya sebagai iklan dalam bentuk mural. Kini muncul balon-balon penipu tersebut. Yaa.. penipu karena tidak ada yang ulang tahun! tidak ada yang naik kelas! Singkatnya : KECU. Lalu apa yang dirayakan sih? Semrawutnya Jogjaaaaa (jawab para kreator iklan serempak). Kami butuh makaaaaaaan brooo (tambah mereka). Sama! (jawabku).

Dalam Perda No 8 /1998 tentang izin Penyelenggaraan Reklame iklan mural jelas tidak termasuk di dalamnya, lalu bagaimana dengan iklan tiang berbalon? Di beberapa lokasi, tiang balon tersebut bahkan berada di trotoar. Dalam Peraturan Walikota Yogyakarta No.45/2007 pasal 1 dijelaskan : Trotoar adalah bagian dari jalan yang fungsi utamanya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Dalam aturan tsb, dengan mempertimbangkan ekonomi masyarakat kecil, pedagang kaki lima diperbolehkan berjualan (di lokasi trotoar yang diijinkan) dengan mengajukan beberapa syarat. Lahan yang boleh dipakai pun tak boleh lebih dari 1/3 bagian trotoar. Lalu bagaimana dengan tiang balon iklan provider tersebut? Apa mereka masuk pedagang kaki lima? Wah wah… bahkan ocehan panjang saya ini belum mencakup soal hak-hak saudara kita yang berkebutuhan khusus. Trotoar kita sudah minim fasilitas bagi warga berkebutuhan khusus (seperti kontur kuning), kini cukup mengganggu pula bagi pejalan kaki dengan tiang-tiang tersebut.

Iklan di tembok-tembok bangunan, jembatan, di balon-balon kecu, di billboard. Apalagi dan di mana lagi besok? Ya… lama-lama iklan bisa jadi “agama” atau aliran baru. Doktrin konsumerismenya tidak terbatas pada kitab saja, tapi tersebar di mana-mana. Masih “berhati nyaman”kah Jogja kita ini Mbah, Mbok, Mbak, Mas, Pak, sedulur?

Duala Okto – warga Yogyakarta 21/2/2013

Related post:

1 comment
  1. gigend says: 25/02/201306:54

    cadas neh artikelnya…….

Submit comment